Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap peserta didik. Namun, kenyataannya masih ada perilaku yang merusak rasa aman tersebut, yaitu bullying. Banyak orang menganggap bullying sebagai candaan biasa antar teman. Padahal, bagi korban, bullying bukanlah hal yang lucu. Ejekan, hinaan, dan perlakuan tidak menyenangkan dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat, tetapi terasa sangat dalam.
Di lingkungan SMPN 56 Batam, keberagaman menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Setiap peserta didik hadir dengan latar belakang, karakter, dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Sayangnya, ketika rasa empati hilang, perbedaan justru bisa dijadikan bahan ejekan. Inilah awal mula bullying terjadi, sering kali tanpa disadari oleh pelakunya.
Bullying tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga hadir dalam kata-kata dan sikap. Julukan yang merendahkan, tertawaan di depan teman-teman, hingga pengucilan dalam pergaulan sering kali dianggap sebagai bagian dari pertemanan. Padahal, kata-kata mampu melukai perasaan dan menurunkan kepercayaan diri seseorang. Di era digital, bullying bahkan semakin mudah terjadi melalui media sosial dan pesan singkat, yang dampaknya bisa menyebar luas dan sulit dihentikan.
SMPN 56 Batam terus berupaya menanamkan nilai saling menghargai melalui kegiatan pembelajaran dan budaya sekolah. Guru berperan sebagai pendidik sekaligus pembimbing karakter, sementara peserta didik diajak untuk membangun empati dan keberanian bersikap benar. Literasi menjadi salah satu jalan untuk membuka kesadaran, karena melalui membaca dan menulis, peserta didik belajar memahami perasaan orang lain dan merefleksikan sikap diri sendiri.
Perlawanan terhadap bullying tidak selalu harus dilakukan dengan tindakan besar. Sikap sederhana seperti memilih kata yang baik, tidak ikut menertawakan teman, dan berani menegur ketika melihat ketidakadilan sudah menjadi langkah berarti. Lebih dari itu, keberanian untuk melapor dan meminta bantuan juga merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan sekolah.
Melalui semangat literasi, SMPN 56 Batam mengajak seluruh warga sekolah untuk menyuarakan kebaikan. Sekolah tanpa bullying bukan hanya impian, melainkan tujuan yang bisa diwujudkan bersama. Sudah saatnya kita memahami bahwa bullying bukan candaan, melainkan masalah serius yang harus dihentikan demi terciptanya generasi yang berkarakter, berempati, dan saling menghargai.
